GEDUNG LVRI & PEPABRI

 GEDUNG LVRI & PEPABRI
Arsitek:Haris Wibisono, IAI
Lokasi:Jl. Sultan Agung, Kota Batu
Luas Lahan:800 m²
Luas Bangunan:1.026 m²
Fotografer:Muhammad Chottob W, IAI

Bila kita mendengar kata fasilitas publik, apalagi yang berkaitan dengan lembaga atau organisasi masyarakat yang didanai pemerintah, kemungkinan kita akan terbayang dengan bangunan yang kotak-kotak cenderung membosankan. Namun desain ini mungkin mematahkan anggapan itu, yaitu desain bangunan PEP ABRI (Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) di Batu ini. Desain arsitekturnya yang terkesan tidak biasa menunjukkan suatu semangat baru dalam arsitektur kontemporer yang cenderung ikonik.

Ikonik dalam arti bahwa bangunan ini memiliki lokasi yang cukup strategis untuk membawa pesan tertentu pada masyarakat yang banyak berlalu lalang didepannya. Sejak awal, desain ini dirancang untuk membawa suatu paradigma berpikir yang baru. Barangkali inilah yang disebut sebagai arsitektur yang dapat membawa perubahan. Perubahan itu mungkin bukan hanya secara fisik dapat memenuhi fungsinya mewadahi aktivitas pengguna gedung, namun lebih dari itu menyematkan suatu aspek arsitektur yang lebih pada makna. Sekali makna itu tersemat dalam benak penikmat arsitekturnya, maka ia bisa jadi juga merubah pandangannya secara keseluruhan terhadap bangunan untuk veteran ini.

Arsitek secara lugas mengambil suatu simbolisme yang terlihat cukup jelas. Veteran prajurit dan pejuang biasanya memakai peci warna jingga atau hitam, yang kemudian menjadi analogi dari suatu struktur melingkar paling atas dari bangunan ini, seakan menjadi ‘peci’ bangunan tersebut.

Unsur garis dan bidang yang juga membentuk kesatuan tema dalam perancangan fasad bangunan ini, terlihat secara konsekuen diterapkan dalam eksterior maupun interiornya. Apabila di bagian depan atau fasad unsur yang sangat jelas terlihat adalah garis-garis yang dibentuk dari bidang-bidang dak beton, maka bagian dalam juga memiliki efek yang sama dari garis garis dan bidang-bidang itu, sebuah kontinuitas antara luar dan dalam.

Kita sering melihat bangunan yang mengeksporasi struktur seperti ini muncul di era tahun 80-an, saat arsitektur dengan penggunaan material beton sangat banyak mengeksplorasi material ini hingga ke area yang lebih sculptural. Ini adalah saat arsitektur hadir bukan hanya sebagai suatu wadah fungsional, tetapi juga membawa makna yang biasa hadir justru dari karya-karya seni rupa. Tampaknya sang arsitek mencoba untuk masuk ke dalam peranan seni ini dengan lebih mendalam.

Banyak arsitek dewasa ini sengaja mengeksplorasi lebih lanjut brutalisme, yang sempat muncul di era tahun 50-an hingga 80-an tersebut. Mungkin di Indonesia belum banyak yang kenal atau bahkan lupa pada brutalisme, yang sebenarnya merupakan suatu ekspresi arsitektur yang didapatkan dari pengolahan material yang tidak di finish atau masih brute (kasar). Kekuatan utamanya adalah mengeksplorasi bentukan- bentukan solid dari hasil komposisi material beton bertulang. Arsitektur ini terlihat seperti sebuah ekspresi yang optimis dari arsitektur sebagai sculpture, di antara arsitektur lain yang lebih berdekorasi.

Hal yang cukup diperhatikan dari karya arsitektur ini adalah aksesibilitas penggunanya. Hal ini karena sebagian besar pengguna nantinya adalah para aktivis senior atau veteran, yang sangat mungkin banyak memiliki keterbatasan fisik karena usia. Penggunaan ramp yang lebih diutamakan daripada tangga sebagai sarana sirkulasi antar lantainya. Tidak hanya berfungsi sebagai sarana sirkulasi, ramp tersebut juga sengaja diperlihatkan dari luar untuk dikomposisikan dengan bentukan massa bangunan. Hasilnya tentu adalah arsitektur yang kesannya tidak biasa.

Konteks lingkungan tentunya tidak lepas dari keinginan arsitek untuk menjadikan bangunan ini punya makna bagi lingkungan sekitarnya. Memang dalam hal ini sengaja dibedakan untuk menjadi penanda yang jelas akan sesuatu yang berbeda, diharapkan bahwa bangunan ini menjadi sesuatu yang akan dikenang dan menandai suatu makna dalam lingkungannya. Arsitektur menjadi sebuah representasi dari impuls yang keluar dari dalam. Keberadaannya seakan- akan menyuntikkan sebuah gairah baru untuk mengajak masyarakat memikirkan sesuatu yang baru juga, bahkan dari konteks yang sudah lama ada.

by :

Studio:Onino Studio
Alamat:Griyashanta D337, Malang
Telepon:081233904336
Email:cdarc27@gmail.com
Website:https://onino.co/

Sumber : Buku 25 Karya Arsitek IAI Malang, Penulis : Probo Hindarto

Developer

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *