GEREJA TPI SENDANG BIRU

 GEREJA TPI SENDANG BIRU
Arsitek:Dian Widatama, IAI
Lokasi:TPI Sendang Biru, Malang
Luas Lahan:600 m²
Luas Bangunan:270 m²
Fotografer:Muhammad Chottob W, IAI

Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) merupakan gereja dengan pengantar bahasa Jawa untukpengajarannya. Dalam GKJW terdapat akulturasi budaya yang dibawa oleh agama kristen yang berasal dari Eropa dengan kebudayaan setempat. Dalam hal ini para jemaat ingin mendirikan sebuah gereja yang mencerminkan akulturasi budaya tersebut. Bagi arsiteknya merupakan sebuah tantangan untuk menterjemahkan keinginan dari jemaat gereja, dalam sebuah rancangan yang memiliki makna.

Di samping sebuah keinginan untuk memunculkan kebudayaan arsitektur yang berasal dari Jawa itu, ternyata pengaruh dari Eropa juga punya tempat di hati para jemaat gereja. Terbukti dari permintaan untuk mengaplikasikan kosakata arsitektural, yang berasal dari berbagai image tentang bangunan gereja, terutama yang berasal dari Eropa. Hal ini tidak bisa dipungkiri mengingat tradisi masyarakat setempat, yang masih mengasosiasikan bangunan gereja dengan idiom tertentu yang didapatkan dari tanah asalnya.

Demi meracik sebuah akulturasi kebudayaan arsitektural, Dian mengambil elemen-elemen yang dapat mewakili kedua kebudayaan tersebut. Dari kebudayaan Eropa, dimunculkan bentuk-bentuk jendela jendela tinggi yang banyak dijumpai pada bangunan-bangunan katedral. Sementara itu dalam rancangan awalnya juga mengadopsi bentukan paling sederhana dari bentukan jendela mawar, yang juga terlihat seperti sebuah penyederhanaan dari bentuk salib. Terlepas dari itu semua, penyederhanaan kosakata arsitektural yang berasal dari gereja di Eropa ini juga merupakan konsekuensi dari keterbatasan biaya.

Sementara itu untuk kosakata arsitektural yang berasal dari Jawa, arsitek memilih untuk membuat bangunan penerima semacam joglo di bagian depan gereja. Menyatu dengan bangunan utama secara keseluruhan, area penerima ini menjadi penanda utama dari konsep Jawa yang ingin diusung.

Terlepas dari kenyataan bahwa bangunan setelah terbangun cukup berbeda dengan rancangan awal pada beberapa bagian, namun konsep utamanya tetap dapat dilacak pada hasil akhirnya. Penambahan bangunan yang dilakukan sendiri oleh jemaat, berupa menara dengan lonceng merupakan pilihan jemaat untuk lebih meyakinkan diri bahwa gereja ini sudah sesuai atau bahkan ‘terlihat’ sebagai sebuah gereja. Menara lonceng merupakan hal yang lazim dalam arsitektur gereja. Nampaknya hal ini merupakan sebuah konsensus yang diyakini, bahwa gereja seharusnya memiliki idiom khusus yang menjadi karakternya.

by :

Studio:Griya Cipta Kreasindo
Bumiayu Residence – Jl. Kyai Parseh Jaya, Bumiayu – Kota Malang
Instagram:dianwidatama_insta
No. Telpon:081231513177
Email:dianwidatama@gmail.com

Sumber : Buku 25 Karya Arsitek IAI Malang, Penulis : Probo Hindarto

Developer

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *